K A K E K
(Dimuat di Surabaya Post 02/04/2010)
(Dimuat di Surabaya Post 02/04/2010)
“Kakekmu ada
di rumah kakakmu sekarang, Cung. Coba
kau lihat sana! Dia lari dari rumahnya.” Tukas Ibu dengan nada kebencian, menghentikan
langkahku masuk ke dalam kamar. Pastilah aku terkejut mendengarnya. Sangat
nampak di wajahnya kalau dia sangat tidak suka dengan kelakukan kakek.
Kakek kabur dari rumah?
Ada-ada saja.
Sungguh aku tidak habis pikir, ada apa sebenarnya
dengan kakek sampai harus lari rumah. Dia sudah terlalu tua untuk bertingkah
seperti anak kecil.
Langkah aku seret kembali. Aku sudah kurang
bernafsu untuk masuk ke dalam kamar setelah mendengar kabar itu. Aku memilih beringsut
dan duduk di sofa. Kuletakkan tas yang sejak tadi terasa begitu berat membebani
pundakku. Kulepaskan juga sepatu dan baju seragamku. Lalu kutelentangkan kedua sayapku
yang lemas di pundak sofa dan mendongakkan kepala. Ibu yang sebelumnya berdiri
ditengah-tengah ruang tamu mendekat, duduk disampingku.
“Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Kakek, Bu?
Kok sampai lari dari rumah?” Tanyaku
setelah menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya tubuhku merasa lelah. Di kantor
aku dihajar habis-habisan oleh pekerjaan menumpuk dan menuntut untuk segera
diselesaikan. Sesampai di rumah, aku harus dihadapkan dengan masalah baru,
Kakek lari dari rumah. Ah, sungguh melelahkan.
“ Kakekmu itu
mungkin sudah tidak waras lagi, Cung. Otaknya sudah rusak. Masak hanya karena bosan sama
masakan istrinya dia memutuskan lari dari rumah. Hah, aku benar-benar
tidak mengerti dengan jalan pikiran Kakekmu itu. Suami macam apa dia? Ayah
macam apa dia?” Jawab Ibu menghujat habis-habisan tingkah Kakek.
“Ibu jangan terlalu kasar menilai Kakek. Walau
bagaimanapun dia tetap ayah Ibu. Kakek yang telah membesarkan Ibu. Iya kan?” Tukasku
membela Kakek.
“Iya. Aku tahu Kakekmu itu ayahku. Tapi, bukankah
seorang ayah itu harus memberikan teladan yang baik pada anaknya?” Tandas Ibu
dengan wajah mengerut.
“Ya sudah. Aku mau istirahat dulu sebentar, Bu. Tubuhku benar-benar seperti mau hancur. Punggungku
seperti mau patah. Aliran darahku seperti mampet di pantat. Baru setelah
istirahat nanti akan kutemui Kakek.”
Karena sudah
tidak tahan akhirnya aku melangkah, merangsek masuk ke kamar, meninggalkan ibu
duduk sendirian. Tas, sepatu dan baju seragam aku bawa serta. Aku heran, semenjak
aku tiba, aku sama sekali tidak melihat batang hidung istriku.
“Ibu melihat
Nur, ya?” teriakku dari dalam kamar.
“Oh ya, istrimu
memijit anakmu ke dukun anak.” Jawab Ibu dari ruang tamu dengan berteriak pula.
“Oooooo.”
Kurebahkan tubuhku
ke kasur. Begitu nikmat rasanya. Tapi, rasanya hanya tubuhku saja yang mampu merasakan
kenikmatan itu. Sedang pikiranku tidak. Aku mulai terganggu dengan ucapan ibuku
tadi yang menuding Kakek sudah tidak waras lagi. Tapi, aku pikir memang tingkah
Kakek sudah keterlaluan. Tidak sepantasnya dia bertingkah seperti itu.
Seharusnya dia sadar dengan umurnya yang sudah tua. Apalagi dia masih menjabat
sebagai kepala keluarga yang masih memiliki anak seumur kencur. Ya, Kakekku
memang masih memiliki anak yang harus dia biayai hidupnya, hasil dari
perkawinannya dengan Yu Yah. Kalau dia kabur dari rumah, lantas siapa yang akan
membiayai anak dan istrinya? Mestinya dia sadar akan itu dan tidak sembarangan menentukan
langkah. Seorang pemimpin perlu hati-hati dalam menentukan sikap dan perbuatan.
Lagipula sudah waktunya dia mendekatkan diri pada Tuhan. Bukan malah bertingkah
macam-macam. Itu semua lepas dari nalar sehatku dan membuatku jadi sulit
memejamkan mata.
Udara panas begitu
terus menyiksa. Angin buatan yang keluar dari kipas angin berkecepatan penuh
tidak mampu mengusir hawa panas yang bersemayam di dalam kamarku. Bau apek keringat mulai menyeruak dari
tubuhku, menelusup ke rongga hidung hingga membuat pengap tarasa. Aku jadi
tidak betah tinggal dalam kamar dengan pikiran sesak serta ditambah bau tidak
sedap. Aku bangkit dari pembaringan dan melangkah mendekat ke jendela kamar.
Kuperhatikan daun pohon Akasia yang merindangi halaman belakang rumah. Sungguh
tidak sedikitpun daunnya bergerak. Angin benar-benar telah pergi dari bumi.
“Cung, kau
tidak tidur? Sini keluar! Kakek ada
perlu sama kamu.”
Suara dari
belakangku membuyarkan hening. Aku terkejut dan segera menoleh. Ah, ternyata Kakek
sudah berdiri di tengah-tengah pintu kamar yang memang sengaja tidak aku tutup
rapat karena panas. Lalu Kakek berbalik badan dan melangkah menuju ruang tamu. Langkahnya
merangsang kakiku untuk juga melangkah
mengikutinya. Aku pun menyusulinya. Kakek mendudukkan pantatnya di sofa
panjang. Aku pun memilih duduk di dekatnya.
“Kau punya
rokok? Coba keluarkan, mulut Kakek sudah gatal ingin menghisapnya.”
Aku beranjak, melangkah
kembali ke dalam kamar. Mengambil rokok dan keluar lagi. Kuletakkan rokok yang
sudah tinggal empat batang di meja. Kakek langsung ambil satu batang dan
menyulutnya. Ah, caranya menghisap
asap rokok itu begitu sangat hati-hati, penuh perasaan. Seolah-olah asap rokok
itu sangat nikmat untuk ditelan.
“Cung! Kau tahu, aku telah pergi dari rumah.
Aku bosan tinggal disana. Lagipula aku sudah diusir oleh anakku sendiri,” ujarnya
membuka pembicaraan.
Aku hanya
tersenyum mendengarnya.
“Kenapa kau
tersenyum? Apa ada yang lucu?”
Kakek mulai
serius. Matanya yang sudah kurang awas lagi, menatapku dengan tajam.
“Kakek itu
kurang kerjaan ya? Sampai harus lari dari rumah. Kakek itu sudah tua. Sadar
Kek! Janganlah bersikap seperti anak-anak! Sebagai cucu Kakek, aku merasa malu
dengan tingkah Kakek itu,” tukasku.
“Coba kau
bayangkan! Aku ini orang tua, Cung! Apa pantas kalau anakku membentak-bentakku?
Memarahiku seakan-akan aku ini seperti musuhnya saja.” Ucapnya dengan wajah
serius.
“Tadi Ibu
bilang, Kakek lari dari rumah hanya karena bosan dengan masakan Yuyah. Mana
yang benar ini? Aku jadi bingung.”
“Iya. Itu juga
salah satunya yang menyebabkan aku lari dari rumah.”
“Kalau begitu Kakek
memang sangat dangkal pikirannya. Masak hanya karena itu Kakek harus lari dari
rumah. Ingat umur, Kek!”
“Apa maksudmu?
Kau juga menyalahkanku?”
“Pasti.
Sebagai orang yang lebih tua seharusnya Kakek bersikap lebih arif dan bijaksana
dalam menanggapi dan menyelesaikan semua masalah. Bukan malah bersikap angkuh
seperti itu. Jadi, hati-hatilah dalam bersikap dan melangkah, Kek.”
“Kau itu anak baru kemarin sore sudah berani
berkata-kata seperti itu padaku. Aku dulu yang merawatmu, Cung. Ingat itu!”
Kakek mulai
terpancing emosinya. Aku hentikan untuk berkata-kata lagi. Aku takut di-cap
cucu kurang ajar dan tidak tahu diri. Habis sudah rokok sebatang dia hisap.
Masih belum marasa puas, dia ambil lagi sebatang dan disulutnya.
“Aku mau
tinggal disini, Cung. Apa boleh?”
Aku terkejut
saat Kakek berkata seperti itu. Mau tinggal di rumahku? Bagaimana mungkin.
Rumahku sangat sempit. Hanya ada tiga kamar. Satu kamar dipakai untuk tempat aku
tidur bersama istri dan kedua anakku. Satunya lagi adalah kamar ibu dan ayahku.
Dan satunya lagi aku jadikan gudang untuk menyimpan barang-barang. Aku jadi
bingung menjawabnya. Penolakanku pastilah akan dirasakan pahit olehnya. Tapi,
kalau aku menerima, mau ditaruh dimana Kakekku? Mau tidur dimana dia? Dan lagi,
bukan itu alasan yang terpenting untuk menolaknya. Dia itu masih punya keluarga
yang membutuhkannya. Bagaimana nanti nasib anak dan istrinya? Aku benar-benar
dibuat bingung. Tetapi, pilihan terbaik
bagiku adalah menolak.
“Aku
perkenankan Kakek tinggal disini kalau Yu Yah sudah meninggal dunia. Selama dia
masih hidup, ma’af Kek, aku tidak bisa mengabulkan permintaan Kakek. Kakek itu
masih punya tanggungjawab yang harus dipenuhi. Merawat, menjaga, mencintai,
menyayangi dan menafkahi Yu Yah dan anak Kakek adalah tanggungjawab Kakek yang tidak
bisa ditinggal begitu saja.”
Kakek diam
setelah aku berkata seperti itu. Jari-jemari tangan kananya menekan-nekan
kepalanya. Pasti dia merasa pusing setelah diserang kata-kataku. Aku bersyukur
kalau dia merasakan pusing. Setidaknya itu bisa membuatnya berpikir dua kali
untuk meninggalkan Yuyah dan anaknya. Tidak meninggalkan tanggungjawab begitu
saja. Aku yakin, Yu Yah berharap suaminya bisa pulang segera. Siapa lagi yang
akan menafkahinya kalau bukan dia. Walau aku sendiri mampu menanggung hidup
mereka berdua, tapi ayah dan ibuku pasti akan melarangku untuk melakukan itu.
“Pokoknya Kakek
harus pulang. Aku tidak mau tahu.” Perintahku.
Sontak Kakek
melirikku dengan tajam. Seperti sedang ingin menamparku. Tapi, aku tidak takut
dengan tamparan. Karena aku sudah biasa ditampar. Paling-paling sakit sedikit.
“Dulu, ibu, pak
de dan aku sudah melarang Kakek menikah lagi. Karena kami pikir Kakek tidak
akan mampu menjalani hidup selanjutnya dengan sisa tenaga dan usia yang tinggal
sedikit. Kalau sudah seperti ini jadinya, siapa yang akan disalahkan? Mau tidak
mau Kakek harus menjalani hidup yang telah Kakek pilih.”
Dia merenung.
Menundukkan kepala.
“Ini ceritanya
aku tidak diperbolehkan tinggal di sini ya! Kalau tidak boleh tinggal disini
lebih baik aku pulang saja.”
“Ha ha ha ha ha,”Aku
tertawa, lepas. “Baguslah kalau begitu. Artinya Kakek sudah sadar dengan
kelakuan Kakek yang salah itu.” Lanjutku sambil mengambil rokok sebatang.
Mulutku tiba-tiba juga serasa gatal ingin segera mengisap asap rokok
dalam-dalam. Aku lega karena Kakek memutuskan mau pulang.
Lalu ibu keluar
dari kamarnya. Dia yang tidak tahu akhir dari permasalahan langsung
marah-marah.
“Ayah itu
harus tahu diri. Ayah itu sudah tua. Aku malu kalau Ayah bertingkah seperti itu.
Dimana aku taruh mukaku ini.” Tandas ibu sesaat setelah merebahkan pantatnya di
sofa.
“Tenang dulu,
Bu. Jangan terburu-buru emosi. Kakek sekarang sudah bersedia mau pulang. Tolong
Bu, hubungi Sundari, adik Ibu itu.” Ibu tersipu-sipu malu setelah mendengar aku
berkata seperti.
“Oooo,
ternyata sudah rampung masalahnya. Kalau begitu aku akan hubungi Sundari. Biar Kakekmu
itu segera dijemput.”
Ibu berlari-lari
menuju kamarnya. Mengambil ponsel dan menghungi adiknya. Dengan penuh semangat
ibu menyuruh adiknya segera datang untuk menjemput Kakek.
Aku melirik ke
daun pintu rumah yang bergerak sendiri karena diempas angin. Ah, angin akhirnya
datang juga. Dan dari kejauhan aku lihat istriku dengan langkah gegas sembari meluncurkan
senyum indah padaku. Anakku yang masih
mungil tertidur pulas di gendongannya. Sesampainya di dalam rumah dia langsung
mencium tangan Kakek.
“Ada apa ini, Mas? Tumben-tumbenan
Kakek datang sore-sore begini. Biasanya malam hari.” Ujarnya dengan nafas-nafas
terengah-engah.
“Biasa, Kakek
sedang lagi ingin main ke sini. Mungkin kangen.” Kilahku mencoba menyimpan
masalah. Aku tidak mau dia tahu. Karena ini adalah rahasia keluargaku. Aib
keluargku.
Beberapa menit
kemudian, Sundari datang. Dengan pasang wajah sumringah dia melangkah masuk ke
rumahku. Ibu yang sudah berdiri di dekatku langsung menyemprotnya.
“Kau itu yang benar
dong kalau menjaga Ayah. Jangan kau marahi dia. Kasihan dia sudah tua.”
Sundari hanya
tersenyum. Tak berani melawan Ibu, kakaknya.
“Mari kita
pulang, Yah! Hari sudah mejelang gelap. Ibu sudah menunggu di rumah. Dan dia
menyampaikan permintaan ma’af padamu. Aku juga minta ma’af karena telah berkata
kasar kepada Ayah.” Kata Sundari sembari meraih tanggan Kakek dan menciumnya.
“Tunggu di depan
sana . Aku mau
ambil tas dulu. Lalu kita langsung pulang.”
Setelah
mengambil tas dan bersalaman kepada seluruh isi rumah, Kakek dan Sundari segera
pulang.
Masalah sudah
benar-benar selesai. Aku sudah bisa bernafas dengan lega. Ibu juga begitu. Aku
harus menunda istirahatku hingga selesai sholat Maghrib. Karena waktu sudah
mepet dan hari sudah menjelang gelap.
Saat aku
hendak mengangkat pantatku, istriku mencegahku dengan pertanyaan.
“Ada apa sebenarnya, Mas?”
“Kau tidak
usah tahu. Aku mohon ma’af yang sebesar-besarnya kepadamu karena aku
benar-benar tidak bisa memberitahumu, Nur. Ini masalah keluargaku.”
“Ya sudah
kalau begitu.” (***)