Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

CERPEN

Rabu, 07 September 2011 | 06.30 WIB Last Updated 2015-02-08T15:18:49Z

K A K E K
(Dimuat di Surabaya Post 02/04/2010)


“Kakekmu ada di rumah kakakmu sekarang, Cung. Coba kau lihat sana! Dia lari dari rumahnya.” Tukas Ibu dengan nada kebencian, menghentikan langkahku masuk ke dalam kamar. Pastilah aku terkejut mendengarnya. Sangat nampak di wajahnya kalau dia sangat tidak suka dengan kelakukan kakek.

Kakek kabur dari rumah?
Ada-ada saja.

Sungguh aku tidak habis pikir, ada apa sebenarnya dengan kakek sampai harus lari rumah. Dia sudah terlalu tua untuk bertingkah seperti anak kecil.

Langkah aku seret kembali. Aku sudah kurang bernafsu untuk masuk ke dalam kamar setelah mendengar kabar itu. Aku memilih beringsut dan duduk di sofa. Kuletakkan tas yang sejak tadi terasa begitu berat membebani pundakku. Kulepaskan juga sepatu dan baju seragamku. Lalu kutelentangkan kedua sayapku yang lemas di pundak sofa dan mendongakkan kepala. Ibu yang sebelumnya berdiri ditengah-tengah ruang tamu mendekat, duduk disampingku.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Kakek, Bu? Kok sampai lari dari rumah?” Tanyaku setelah menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya tubuhku merasa lelah. Di kantor aku dihajar habis-habisan oleh pekerjaan menumpuk dan menuntut untuk segera diselesaikan. Sesampai di rumah, aku harus dihadapkan dengan masalah baru, Kakek lari dari rumah. Ah, sungguh melelahkan.

“ Kakekmu itu mungkin sudah tidak waras lagi, Cung. Otaknya sudah rusak. Masak  hanya karena bosan sama masakan istrinya dia memutuskan lari dari rumah.  Hah, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Kakekmu itu. Suami macam apa dia? Ayah macam apa dia?” Jawab Ibu menghujat habis-habisan tingkah Kakek.

“Ibu jangan terlalu kasar menilai Kakek. Walau bagaimanapun dia tetap ayah Ibu. Kakek yang telah membesarkan Ibu. Iya kan?” Tukasku membela Kakek.

“Iya. Aku tahu Kakekmu itu ayahku. Tapi, bukankah seorang ayah itu harus memberikan teladan yang baik pada anaknya?” Tandas Ibu dengan wajah mengerut.

“Ya sudah. Aku mau istirahat dulu sebentar, Bu. Tubuhku benar-benar seperti mau hancur. Punggungku seperti mau patah. Aliran darahku seperti mampet di pantat. Baru setelah istirahat nanti akan kutemui Kakek.”

Karena sudah tidak tahan akhirnya aku melangkah, merangsek masuk ke kamar, meninggalkan ibu duduk sendirian. Tas, sepatu dan baju seragam aku bawa serta. Aku heran, semenjak aku tiba, aku sama sekali tidak melihat batang hidung istriku.

“Ibu melihat Nur, ya?” teriakku dari dalam kamar.

“Oh ya, istrimu memijit anakmu ke dukun anak.” Jawab Ibu dari ruang tamu dengan berteriak pula.

“Oooooo.”

Kurebahkan tubuhku ke kasur. Begitu nikmat rasanya. Tapi, rasanya hanya tubuhku saja yang mampu merasakan kenikmatan itu. Sedang pikiranku tidak. Aku mulai terganggu dengan ucapan ibuku tadi yang menuding Kakek sudah tidak waras lagi. Tapi, aku pikir memang tingkah Kakek sudah keterlaluan. Tidak sepantasnya dia bertingkah seperti itu. Seharusnya dia sadar dengan umurnya yang sudah tua. Apalagi dia masih menjabat sebagai kepala keluarga yang masih memiliki anak seumur kencur. Ya, Kakekku memang masih memiliki anak yang harus dia biayai hidupnya, hasil dari perkawinannya dengan Yu Yah. Kalau dia kabur dari rumah, lantas siapa yang akan membiayai anak dan istrinya? Mestinya dia sadar akan itu dan tidak sembarangan menentukan langkah. Seorang pemimpin perlu hati-hati dalam menentukan sikap dan perbuatan. Lagipula sudah waktunya dia mendekatkan diri pada Tuhan. Bukan malah bertingkah macam-macam. Itu semua lepas dari nalar sehatku dan membuatku jadi sulit memejamkan mata.

Udara panas begitu terus menyiksa. Angin buatan yang keluar dari kipas angin berkecepatan penuh tidak mampu mengusir hawa panas yang bersemayam di dalam kamarku. Bau apek keringat mulai menyeruak dari tubuhku, menelusup ke rongga hidung hingga membuat pengap tarasa. Aku jadi tidak betah tinggal dalam kamar dengan pikiran sesak serta ditambah bau tidak sedap. Aku bangkit dari pembaringan dan  melangkah mendekat ke jendela kamar. Kuperhatikan daun pohon Akasia yang merindangi halaman belakang rumah. Sungguh tidak sedikitpun daunnya bergerak. Angin benar-benar telah pergi dari bumi.

“Cung, kau tidak tidur? Sini keluar!  Kakek ada perlu sama kamu.”

Suara dari belakangku membuyarkan hening. Aku terkejut dan segera menoleh. Ah, ternyata Kakek sudah berdiri di tengah-tengah pintu kamar yang memang sengaja tidak aku tutup rapat karena panas. Lalu Kakek berbalik badan dan melangkah menuju ruang tamu. Langkahnya  merangsang kakiku untuk juga melangkah mengikutinya. Aku pun menyusulinya. Kakek mendudukkan pantatnya di sofa panjang. Aku pun memilih duduk di dekatnya.

“Kau punya rokok? Coba keluarkan, mulut Kakek sudah gatal ingin menghisapnya.”

Aku beranjak, melangkah kembali ke dalam kamar. Mengambil rokok dan keluar lagi. Kuletakkan rokok yang sudah tinggal empat batang di meja. Kakek langsung ambil satu batang dan menyulutnya. Ah, caranya menghisap asap rokok itu begitu sangat hati-hati, penuh perasaan. Seolah-olah asap rokok itu sangat nikmat untuk ditelan.

 “Cung! Kau tahu, aku telah pergi dari rumah. Aku bosan tinggal disana. Lagipula aku sudah diusir oleh anakku sendiri,” ujarnya membuka pembicaraan.

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Kenapa kau tersenyum? Apa ada yang lucu?”

Kakek mulai serius. Matanya yang sudah kurang awas lagi, menatapku dengan tajam.

“Kakek itu kurang kerjaan ya? Sampai harus lari dari rumah. Kakek itu sudah tua. Sadar Kek! Janganlah bersikap seperti anak-anak! Sebagai cucu Kakek, aku merasa malu dengan tingkah Kakek itu,” tukasku.

“Coba kau bayangkan! Aku ini orang tua, Cung! Apa pantas kalau anakku membentak-bentakku? Memarahiku seakan-akan aku ini seperti musuhnya saja.” Ucapnya dengan wajah serius.

“Tadi Ibu bilang, Kakek lari dari rumah hanya karena bosan dengan masakan Yuyah. Mana yang benar ini? Aku jadi bingung.”

“Iya. Itu juga salah satunya yang menyebabkan aku lari dari rumah.”

“Kalau begitu Kakek memang sangat dangkal pikirannya. Masak hanya karena itu Kakek harus lari dari rumah. Ingat umur, Kek!”

“Apa maksudmu? Kau juga menyalahkanku?”

“Pasti. Sebagai orang yang lebih tua seharusnya Kakek bersikap lebih arif dan bijaksana dalam menanggapi dan menyelesaikan semua masalah. Bukan malah bersikap angkuh seperti itu. Jadi, hati-hatilah dalam bersikap dan melangkah, Kek.”

“Kau itu anak baru kemarin sore sudah berani berkata-kata seperti itu padaku. Aku dulu yang merawatmu, Cung. Ingat itu!”

Kakek mulai terpancing emosinya. Aku hentikan untuk berkata-kata lagi. Aku takut di-cap cucu kurang ajar dan tidak tahu diri. Habis sudah rokok sebatang dia hisap. Masih belum marasa puas, dia ambil lagi sebatang dan disulutnya.

“Aku mau tinggal disini, Cung. Apa boleh?”

Aku terkejut saat Kakek berkata seperti itu. Mau tinggal di rumahku? Bagaimana mungkin. Rumahku sangat sempit. Hanya ada tiga  kamar. Satu kamar dipakai untuk tempat aku tidur bersama istri dan kedua anakku. Satunya lagi adalah kamar ibu dan ayahku. Dan satunya lagi aku jadikan gudang untuk menyimpan barang-barang. Aku jadi bingung menjawabnya. Penolakanku pastilah akan dirasakan pahit olehnya. Tapi, kalau aku menerima, mau ditaruh dimana Kakekku? Mau tidur dimana dia? Dan lagi, bukan itu alasan yang terpenting untuk menolaknya. Dia itu masih punya keluarga yang membutuhkannya. Bagaimana nanti nasib anak dan istrinya? Aku benar-benar dibuat bingung.  Tetapi, pilihan terbaik bagiku adalah menolak.

“Aku perkenankan Kakek tinggal disini kalau Yu Yah sudah meninggal dunia. Selama dia masih hidup, ma’af Kek, aku tidak bisa mengabulkan permintaan Kakek. Kakek itu masih punya tanggungjawab yang harus dipenuhi. Merawat, menjaga, mencintai, menyayangi dan menafkahi Yu Yah dan anak Kakek adalah tanggungjawab Kakek yang tidak bisa ditinggal begitu saja.”

Kakek diam setelah aku berkata seperti itu. Jari-jemari tangan kananya menekan-nekan kepalanya. Pasti dia merasa pusing setelah diserang kata-kataku. Aku bersyukur kalau dia merasakan pusing. Setidaknya itu bisa membuatnya berpikir dua kali untuk meninggalkan Yuyah dan anaknya. Tidak meninggalkan tanggungjawab begitu saja. Aku yakin, Yu Yah berharap suaminya bisa pulang segera. Siapa lagi yang akan menafkahinya kalau bukan dia. Walau aku sendiri mampu menanggung hidup mereka berdua, tapi ayah dan ibuku pasti akan melarangku untuk melakukan itu.

“Pokoknya Kakek harus pulang. Aku tidak mau tahu.” Perintahku.

Sontak Kakek melirikku dengan tajam. Seperti sedang ingin menamparku. Tapi, aku tidak takut dengan tamparan. Karena aku sudah biasa ditampar. Paling-paling sakit sedikit.

“Dulu, ibu, pak de dan aku sudah melarang Kakek menikah lagi. Karena kami pikir Kakek tidak akan mampu menjalani hidup selanjutnya dengan sisa tenaga dan usia yang tinggal sedikit. Kalau sudah seperti ini jadinya, siapa yang akan disalahkan? Mau tidak mau Kakek harus menjalani hidup yang telah Kakek pilih.”

Dia merenung. Menundukkan kepala.  

“Ini ceritanya aku tidak diperbolehkan tinggal di sini ya! Kalau tidak boleh tinggal disini lebih baik aku pulang saja.”

“Ha ha ha ha ha,”Aku tertawa, lepas. “Baguslah kalau begitu. Artinya Kakek sudah sadar dengan kelakuan Kakek yang salah itu.” Lanjutku sambil mengambil rokok sebatang. Mulutku tiba-tiba juga serasa gatal ingin segera mengisap asap rokok dalam-dalam. Aku lega karena Kakek memutuskan mau pulang.

Lalu ibu keluar dari kamarnya. Dia yang tidak tahu akhir dari permasalahan langsung marah-marah.

“Ayah itu harus tahu diri. Ayah itu sudah tua. Aku malu kalau Ayah bertingkah seperti itu. Dimana aku taruh mukaku ini.” Tandas ibu sesaat setelah merebahkan pantatnya di sofa.

“Tenang dulu, Bu. Jangan terburu-buru emosi. Kakek sekarang sudah bersedia mau pulang. Tolong Bu, hubungi Sundari, adik Ibu itu.” Ibu tersipu-sipu malu setelah mendengar aku berkata seperti.

“Oooo, ternyata sudah rampung masalahnya. Kalau begitu aku akan hubungi Sundari. Biar Kakekmu itu segera dijemput.”

Ibu berlari-lari menuju kamarnya. Mengambil ponsel dan menghungi adiknya. Dengan penuh semangat ibu menyuruh adiknya segera datang untuk menjemput Kakek.

Aku melirik ke daun pintu rumah yang bergerak sendiri karena diempas angin. Ah, angin akhirnya datang juga. Dan dari kejauhan aku lihat istriku dengan langkah gegas sembari meluncurkan senyum indah padaku.  Anakku yang masih mungil tertidur pulas di gendongannya. Sesampainya di dalam rumah dia langsung mencium tangan Kakek.

Ada apa ini, Mas? Tumben-tumbenan Kakek datang sore-sore begini. Biasanya malam hari.” Ujarnya dengan nafas-nafas terengah-engah.

“Biasa, Kakek sedang lagi ingin main ke sini. Mungkin kangen.” Kilahku mencoba menyimpan masalah. Aku tidak mau dia tahu. Karena ini adalah rahasia keluargaku. Aib keluargku.

Beberapa menit kemudian, Sundari datang. Dengan pasang wajah sumringah dia melangkah masuk ke rumahku. Ibu yang sudah berdiri di dekatku langsung menyemprotnya.

“Kau itu yang benar dong kalau menjaga Ayah. Jangan kau marahi dia. Kasihan dia sudah tua.”

Sundari hanya tersenyum. Tak berani melawan Ibu, kakaknya.

“Mari kita pulang, Yah! Hari sudah mejelang gelap. Ibu sudah menunggu di rumah. Dan dia menyampaikan permintaan ma’af padamu. Aku juga minta ma’af karena telah berkata kasar kepada Ayah.” Kata Sundari sembari meraih tanggan Kakek dan menciumnya.

“Tunggu di depan sana. Aku mau ambil tas dulu. Lalu kita langsung pulang.”

Setelah mengambil tas dan bersalaman kepada seluruh isi rumah, Kakek dan Sundari segera pulang.

Masalah sudah benar-benar selesai. Aku sudah bisa bernafas dengan lega. Ibu juga begitu. Aku harus menunda istirahatku hingga selesai sholat Maghrib. Karena waktu sudah mepet dan hari sudah menjelang gelap.

Saat aku hendak mengangkat pantatku, istriku mencegahku dengan pertanyaan.

Ada apa sebenarnya, Mas?”

“Kau tidak usah tahu. Aku mohon ma’af yang sebesar-besarnya kepadamu karena aku benar-benar tidak bisa memberitahumu, Nur. Ini masalah keluargaku.”

“Ya sudah kalau begitu.” (***)
×
Berita Terbaru Update