Sungai Wong Agung
Oleh: Agus Salim
(dimuat di Suara Merdeka)
Prolog
Setiap kali
ada orang berkunjung ke desaku pasti akan bertanya tentang sungai yang
meliuk-liuk panjang bak ular sedang terkapar dengan sebuah soal: Apa nama sungai
ini? Kemudian dengan ramah mulutku akan segera menjawab: Wong Agung. Tapi ketika
mereka meminta aku menjelaskan menganai riwayat sungai itu maka kukatakan kalau
aku tak bisa menjelaskannya sebegitu rinci karena takut salah menguraikannya. Lalu,
tatkala pengunjung lelah menuruti rasa penasarannya, pasti akan segera mengakhirinya
dengan ungkapan “sungai ini sungguh indah”.
Aku tak heran
bila para pengunjung itu menyebut sungai itu indah. Karena memang demikian
adanya. Tapi bila mereka tahu cerita-cerita misteri di balik sungai yang tenang
dan menenangkan itu, maka akan muncul ribuan rasa tak percaya dan aku yakin
mereka pasti akan bertanya: benarkah itu? Ah, inilah yang tidak aku mengerti mengapa
cerita-cerita tengil dan ganjil yang seperti sengaja dikait-kaitkan dengan
sungai itu bisa menjadi ada dan menyelimuti desaku.
Baiklah, biar
kuungkap semua cerita-cerita misteri itu secara ringkas, agar kalian bisa
mencerna dengan seksama dan selanjutnya bisa menimbang-nimbang, apakah cerita misteri
ini rekayasa atau benar-benar ada.
Lelaki yang Terangkat ke Langit.
Kala itu ada
seorang lelaki mengintip beberapa perempuan yang sedang mandi dengan riangnya
di sungai itu. Mereka, perempuan-perempuan itu, bukan penduduk desa dan wajah
mereka cantik semua. Dalam waktu cukup lama lelaki itu tak berkedip karena
terkesima melihat wajah dan tubuh mereka yang indah.
Entah kenapa, mungkin
karena nasibnya memang sudah apes, tiba-tiba salah satu perempuan yang tadinya
ada di tengah-tengah perempuan yang lain, berdiri di belakangnya. Betapa
terkejutnya si lelaki saat perempuan itu menepuk pundaknya dan berkata: “Ayo,
ikut mandi bersama kami. Kami tidak pernah mandi dengan manusia sejenismu.”
Si lelaki
hendak lari, tapi tak bisa. Ada
kekuatan luar biasa yang mencengkeram kakinya dan melemahkan kekuatannya.
"Maaf,
aku..., maaf…" si lelaki berusaha menolak dan menjelaskan tapi tak kunjung
sampai karena lidahnya kaku.
"Sudahlah,
ikutlah denganku," paksa si perempuan.
Mungkin karena
telah kemasukan guna-guna, si lelaki jadi luluh. Dia ikuti langkah perempuan
dengan kepala menuduk. Mirip maling tertangkap basah. Pasrah.
Dia pun ikut
menceburkan diri ke sungai. Dan setelah puas mandi salah seorang perempuan
mengutarakan sesuatu kepada si lelaki.
"Maukah
kau ikut denganku?"
Lelaki itu
menganga. Dirinya sama sekali tak menduga kalau akan mendapatkan tawaran cuma-cuma.
Sebelum-sebelumnya tak pernah ada perempuan yang mau mendekat padanya, mengajak
bicara, apalagi sampai mengajaknya ikut serta. Sebab sebagai pejantan dia terbilang
memiliki wajah menyeramkan dan menjinjikkan.
Tak ingin
kehilangan kesempatan yang sangat langka, si lelaki menganggukkan kepala. Perempuan-perempuan
itu kemudian segera membawa lelaki itu, terbang. Dalam bilangan detik, mereka
semua lesat ke langit, memecah gumpalan awan, lalu lenyap. Hingga sekarang, si lelaki tukang ngintip, yang
sehari-harinya katanya hidup sebatang kara dan tak memiliki kerja, tak pernah
kembali.
Bayi Buruk Rupa
Inilah cerita misteri yang cukup mengerikan,
menurutku.
Saat itu hujan
deras dan angin membadai. Suara-suara di sekitar menderu seru dan petir
menggelatar. Ada
suara jerit melengking di antara semak-semak, seperti suara tangis. Jeritannya
memilukan. Menyayat-nyayat. Hujan terus menguyur deras. Menghatam tanah. Membasah-kuyupkan
daun dan rerumputan. Lewatlah seorang lelaki renta yang katanya salah seorang
warga desa ini. Ia mendengar jeritan itu dan langsung mendekat.
Betapa
terkejutnya ia saat menemukan sumber suara: sebungkus bayi berwarna gelap,
kulitnya bersisik dan biji matanya merah saga. Mulanya si lelaki renta ketakutan
untuk mengambil bayi itu. Namun karena kasihan, ia pun tak pedulikan rasa
takutnya. Ia mendekap bayi itu dan membawanya berteduh di gubuk ringsek yang
memang sejak dulu sudah ada di tepi sungai.
Bayi berkulit
gelap, bersisik amis, berhenti menangis. Si lelaki renta cukup lega karena
tidak terjadi sesuatu yang serius pada si bayi. Saat hujan reda, ia pun membawa
si bayi pulang ke rumahnya.
Setibanya di
rumah, ia pangggil anak perempuannya. Ditunjukkan bayi gelap dan buruk rupa itu
kepada anaknya. Pada saat bersamaan si anak membelalakkan mata, terkejut.
"Bayi
siapa ini?" tanya si anak.
"Tak
tahu. Aku temukan ia menjerit-jerit, menangis di balik semak-semak," jawab
si lelaki renta.
"Lalu apa
yang akan kita lakukan dengan bayi bersisik ini?" tanya si anak.
"Kita
akan merawatnya," jawab si lelaki renta.
Mulanya si
anak tak mau, tapi akhirnya mengalah dan menerima ketika si lelaki renta
memaksanya dengan wajah melas yang sungguh-sungguh.
Setelah
beberapa hari berselang, perempuan itu mulai belajar menyusui bayi malang itu. Lalu pada hari
yang berbeda, saat menyusui ternyata si bayi tak mau melepaskan mulutnya dari
puting susu perempuan. Meski sudah diusahakan, tetap saja tidak mau melepasnya.
Perempuan panik karena sudah merasakan nyeri luar biasa di payudaranya. Ia
menjerit-jerit. Tapi tak ada yang mendengar. Kala itu lelaki renta masih ada di
sungai, memancing.
Lelaki renta
pulang membawa hasil memancing yang cukup banyak. Namun rautnya wajahnya segera
berubah sedih saat melihat anak semata wayangnya mati bersimbah darah di bagian
putingnya. Bayi itu dicari-cari olehnya. Tapi tak ada di mana-mana. Bayi itu
lenyap. Sejak itu, lelaki renta tak pernah keluar rumah. Mayat anaknya tidak
dikubur. Sampai berhari-hari. Tatkala perutnya lapar, ia memakan danging anaknya.
Terus, terus dan terus seperti itu. Sampai akhirnya habis dan tersisa tulang
belulang.
Perempuan yang Mandi Tengah Malam
Sampai suatu waktu,
di dalam tidurnya yang khusyuk, ada seseorang pemuda tampan datang dalam
mimpinya. Pemuda tampan itu berkata: mandilah di sungai itu pada saat tengah
malam. Hajatmu ingin memiliki anak akan segera terpenuhi.
Ia sampaikan
mimpi itu kepada suaminya. Sontak si suami tidak percaya dengan mimpi merayu
itu. "Aku tak ingin kau mendapatkan celaka. Jangan kau turuti mimpi itu,"
tegas si suami. Dan si istri pun mengamini.
Pada tidur
berikutnya, pemuda tampan itu datang lagi dalam mimpi perempuan. Ia kembali
mengatakan hal yang sama. Pada tidur berikutnya, berikutnya lagi, lagi dan
lagi, juga sama. Namun si suami tetap tidak percaya.
Maka, oleh
sebab bosan didatangi mimpi yang merayu-rayu, si perempuan akhirnya diam-diam
pergi ke sungai tengah malam. Mulanya ia takut untuk menceburkan diri ke
sungai. Namun bisikan pemuda tampan itu seperti mantra sihir yang begitu kuat
dan memperdaya, sehingga ketakutannya runtuh.
Ia pun segera
melepas baju. Lalu melangkah pelan, dan berendam di sungai. Lima sampai sepuluh menit, tak tanda-tanda
akan terjadi sesuatu. Tapi setelah tiga puluh menit, ada sesuatu yang
meliuk-liuk di dasar sungai, dan mencengkeram perempuan itu. Perempuan
menjerit. Tapi siapa mendengar? Malam sudah terlalu matang. Dan...lenyaplah
dia. Selamanya.
Konon perempuan
itu suka menampakkan diri pada saat hari sudah tengah malam. Dan bagi yang tanpa
sengaja melihatnya pasti akan segera lari terbirit-birit karena ketakutan
melihat si perempuan yang separuh tubuhnya adalah bertubuh ular.
Gadis Kecil yang Menunggu
Setiap senja
tiba, akan ada seorang gadis kecil duduk bersandar di pohon besar yang ada di
tepi sungai. Entah dari mana asalnya. Ia akan duduk di sana sampai lenyap senja. Ia pasti akan melantunkan
sebuah nyanyian. Nyanyian tanpa syair. Suaranya sendu dan getir. Jika ada telinga
mendengar, pasti akan segera dirajam rasa kasihan amat dalam. Kemudian tanpa
diminta, si pendengar itu akan menemaninya sampai senja musnah. Tapi hati-hati,
barang siapa terperangkap oleh suaranya yang merayu, pasti tak akan pernah bisa
beranjak jauh darinya. Dan celakalah ia karena dipastikan ia tak akan kembali
ke alam nyata.
Bila sama sekali tidak ada orang tertarik
dengan suara sendu dan getirnya, maka si gadis kecil akan sedih. Karena pasti ia
akan mendapatkan murka dari sang ayah. Ia akan tambah panik pada saat senja
mulai menipis. Karena pada saat itu sang ayah akan muncul dari permukaan sungai
dan berkata: kau anak tidak becus. Anak durhaka. Tega membiarkan ayahmu
kelaparan.
Si anak pasti
menangis. Dengan suara tangisan yang begitu pilu. Di sela-sela tangisnya ia
akan berkata: Aku sudah lelah ayah. Jangan kau paksa aku.
Sang ayah
tetap saja marah dan menyuruh gadis kecil untuk tetap menunggu. Jika sampai
senja lenyap masih belum juga mendapatkan tumbal untuk sang ayah, maka alamat
ia akan mendapatkan hukuman cambuk.
Konon, ada
salah seorang warga desa yang sering mendengar suara anak perempuan yang
berseru minta tolong dan suara tangis yang pilu dari kedalaman sungai.
Merah yang Menyala
Suatu waktu,
air sungai tiba-tiba berubah warna. Menjadi merah. Pekat. Amis. Entah dari mana
sumber warna merah yang menguasai seluruh air di sungai itu. Tak ada yang
berani mendekat. Kemudian seorang bapak yang usianya sudah terbilang tua,
segera menyampaikan maklumat: penunggu sungai ini sudah mati. Jadi jangan
pernah takut lagi untuk mandi di sungai ini.
"Siapa
yang mengalahkannya?" tanya seorang warga.
"Aku. Aku
yang menghabisi jin ular di sungai ini” jawab si bapak tua.
Warga tetap
tidak percaya. Karena si bapak tua itu adalah pendatang baru yang sok tahu, sok
sakti dan sok pemberani. Konon ia memiliki maksud jahat di balik maklumat yang
telah disampaikannya. Berdasarkan cerita yang telah dirawikan oleh Wak Ju, si
bapak tua adalah orang kota
yang sengaja datang ke desaku ini dengan tujuan tidak baik. Ia hendak membangun
arena bermain dan rekreasi dengan memanfaatkan sungai itu.
Pada malam
harinya, sungai yang sebelumnya pelan-pelan sudah mulai kehilangan warna merah
tiba-tiba kembali menjadi merah pekat dan semakin menyala. Kau tahu apa yang
terjadi? Mayat si bapak tua mengambang di sungai itu dengan penuh luka di
sekujur tubuhnya.
Esok harinya,
sungai kembali pada asal. Bening dan hening. Keindahannya semakin sempurna.
Epilog
Maka itulah beberapa
cerita misteri yang mulai sejak dulu sudah ada dan menyesaki kepala warga desa
ini. Tidak jelas siapa pertama kali orang yang telah menceritakannya. Wak Ju
mendapatkan cerita-cerita itu dari orang-orang sebelumnya.
Meski seringkali
ada yang menyuruh aku agar tidak bermain di sungai itu, aku tidak
menghiraukannya. Aku juga tak pernah percaya pada cerita tengil dan ganjil itu.
Karena sudah bertahun-tahun aku mancing
di sungai ini tak satu pun kejadian aneh menimpaku. Semisal itu nyata, aku
pasti lenyap dan tak kembali lagi.
Jikalau suatu
hari nanti kau berniat berkunjung ke desaku, janganlah ragu. Seumpama ada salah seorang warga desaku
bercerita tentang misteri sungai itu dan kemudian manakut-nakutimu agar tidak
pergi ke sungai itu, maka janganlah pernah percaya. Kau pergi saja ke sungai
itu, dan lihatlah betapa indahnya. Saat senja sudah tiba, maka kau akan merasa
betah dan tak mau berpisah dengannya.
Apakah kalian
tidak percaya kepadaku? Maka datanglah. Aku menunggu kalian di sini. Selamanya.
Rima, 2014